Idol Perempuan K-Pop di Tengah Konservatisme dan Cacian Penggemar WWW.KICAU4D.NET





Mahasiswa Universitas Abu Dhabi Narmeen Mohammed, kiri, dan Manar Tag, tengah, memamerkan poster band K-pop Apink mereka yang terkenal, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin, 26 Maret 2018. AP Photo/Jon Gambrell
Para idol perempuan dalam industri K-pop diharapkan menjual kepolosan sekaligus tampil provokatif.
- K-pop dicintai dan dicaci. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di negeri asalnya sendiri, Korea Selatan. 

Baru-baru ini, ustaz yang cukup terkenal di jagat dunia maya, Fuadh Naim, dalam sebuah kajian di sebuah Masjid di Jakarta Selatan menasehati agar umat Islam sebaiknya menjauhi terpaan gelombang budaya Korea termasuk K-pop dan drama Korea. Ia menuding budaya pop Korsel mempromosikan gaya hidup lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), dan seks bebas.

Dikutip dari The Jakarta Post, Fuadh mengatakan bahwa industri K-pop menampakkan citra LGBT, salah satunya melalui kontak fisik (berupa sentuhan tangan dan pelukan) antara idol laki-laki. Namun, alih-alih menolak, lanjutnya, sejumlah fans K-pop malah senang melihat adanya kontak fisik tersebut.

“[Gelombang kebudayaan Korea] menawarkan sesuatu yang menarik dan menyegarkan layaknya air, yang kemudian menarik Muslim ke dalam api [neraka],” sebut Fuadh. “Mulai sekarang, saatnya move on dan mencurahkan hati kita untuk Allah dan Muhammad nabi-Nya.”

Saat berita ini ditulis, akun Instagram Fuadh sudah memiliki 56,4 ribu pengikut. Ia memang vokal menentang budaya populer Korsel lewat akunnya itu. Fuadh sendiri adalah murid Felix Siauw, seorang ustad yang dalam beberapa tahun terakhir cukup kontroversial karena dukungan dan simpatinya pada gagasan khilafah dan Hizbut Tharir Indonesia (HTI).

Fuadh mengklaim telah memperoleh banyak dukungan terkait sikap penolakannya tersebut, khususnya dari mereka sibuk dengan isu moralitas generasi muda.

Bacaan Feminis

Kendati tak persis sama, penolakan berlandaskan konservatisme serupa sesungguhnya terjadi tidak hanya di Indonesia namun juga di Korea Selatan sendiri.

Di negeri ginseng tersebut, para idol K-Pop juga mengalami sejumlah tekanan dari kelompok masyarakat, terutama kaum konservatif, yang masih menjunjung tinggi ajaran Konfusianisme di mana patriarkisme adalah salah satu pilarnya.

Dalam setahun terakhir, misalnya, Irene, penyanyi utama dari girlband populer Red Velvet, menjadi pusat kontroversi di Korea Selatan. Seperti dilaporkan South China Morning Post (SCMP), Irene menjadi sorotan bukan hanya karena ia pernah berdiri di samping supreme leader Korea Utara Kim Joung Un pasca konser di negara tersebut, namun juga karena ia membaca buku terkait feminisme.

Kontroversi itu berawal pada Maret 2018. Kala itu, Irene mengatakan kepada para penggemarnya dalam sebuah jumpa fans bahwa ia membaca buku berjudul Kim Ji Young, Born 1982. Sebagai catatan, buku karangan Cho Nam Ju tersebut menceritakan bagaimana budaya patriarki di Korsel membuat perempuan merasa lebih rendah derajatnya dibanding lelaki.

Dikutip Quartz, buku ini menjadi populer di Korsel bukan pada saat diluncurkan, melainkan setelah pengaruh gerakan #MeToo atau #WithYou sampai di negara tersebut. Bagi sebagian masyarakat, gerakan ini dipandang sebagai sebuah gerakan seksis terhadap pria. Kim Ji Young, Born 1982 pun menjadi salah satu buku terlaris di Korsel.

Sejumlah penggemar pria bereaksi keras. Mereka tidak hanya mencaci maki Irene namun juga membakar foto-fotonya dan mengunggah aksi mereka dalam sejumlah forum penggemar di internet.

Situasi ini tidak hanya dialami oleh Irene, namun juga oleh sejumlah idol wanita lainnya. Salah satunya anggota girlband APink bernama Son Naeun. Billboardmelaporkan, idol wanita itu mengunggah foto dirinya yang sedang memegang ponsel pintar yang berselimutkan pelindung ponsel dari Zadig & Voltaire bertuliskan “girls can do anything” (perempuan dapat melakukan apa saja).

Para warganet langsung beramai-ramai mengkritik Naeun dan menuduhnya sengaja mempromosikan feminisme. Agensi yang menaungi APink dengan segera memberikan klarifikasi bahwa pelindung ponsel tersebut merupakan pemberian jenama Zadig & Voltaire dan dipakai hanya untuk kepentingan sesi foto. Tak butuh waktu lama, foto Naeun pun menghilang dari akun media sosialnya.

Selain Irene dan Naeun, salah satu anggota girlband ternama SNSD, Soo Young, juga turut masuk dalam radar para pengkritik feminisme Korea setelah menamai serial reality show-nya “Chou Sooyoung, Born 1990” karena terinspirasi dari novel Cho Nam Ju tersebut.
Kendati demikian, tokoh dan selebriti pria yang membaca novel yang sama tak mendapat pengalaman seburuk Soo Young. Seperti dilaporkan Korea Herald, presenter pria ternama Korsel Yoo Jae-Suk, misalnya, tidak mendapat kritikan yang masif kendati membaca novel yang sama. Politisi An Hee Jung yang terlibat skandal pelecehan seksual malah mendapat pujian karena membaca buku tersebut.

Perlu dicatat pula, tidak semuanya mengkritik keberpihakan para idol itu. Para penggemar wanita Naeun di Korsel, salah satunya, membalas kritik terhadap idol dengan cara membuat gerakan online #girlscandoanything yang menjadi topik yang trending di Twitter melalui lima tanda tagar berbeda.

Standar Ganda Seksisme?

Yang menarik, patriarki Korea beriringan dengan eksploitasi keseksian para bintang perempuan. Idol perempuan diminta untuk tampil seksi, namun ketika turun dari panggung mereka harus menjadi idol yang santun dan tunduk pada pria.

CNN melaporkan, James Turnbull, seorang penulis yang menggeluti isu seksualitas dan feminisme mengatakan para idol wanita sering menanggung beban standar ganda dalam masyakarat Korsel tersebut. 

Turnbull yang tinggal di Busan, Korsel, mengatakan masyarakat Korsel lebih suka bintang K-Pop wanita yang belum menikah dan punya citra polos. “Beberapa penulis lagu dan sutradara (video musik) kemudian disiapkan untuk ‘menyajikan’ mereka sebagai perempuan dewasa dengan pengalaman, kapasitas bertindak, dan hasrat seksual." 

DAFTAR SEKARANG !!!

HANYA 1 USER ID SEMUA GAME :
TOGEL,SPOOTSBOOK,CASINO,SLOT,POKER&DOMINO,TANGKAS,AYAM

PASARAN TOGEL
SINGAPORE, NEW GUINEA, DAN INDOSAT
4D : 66% ( Bayaran : 1 x 3000 ) 
3D : 59.5% ( Bayaran : 1 x 400 )
2D : 29.50% ( Bayaran : 1 x 70 )

SYDNEY DAN HONGKONG
4D : 66% ( Bayaran : 1 x 3000 )
3D : 59% ( Bayaran : 1 x 400 )
2D : 29% ( Bayaran : 1 x 70 )

Berikut HOT PROMO BONUS KICAU4D :
- Bonus New Member 10%
- Bonus Harian up to 10%
- Bonus CashBack 5% ( Games slot &Tangkas )
- Bonus Rollingan up to 0.8% ( Casino )
- Bonus CashBack up to 15% ( Sportbook )
- Bonus CashBack up to 15% ( Sabung Ayam )
- Bonus CashBack Mix Parlay 100% ( Sportbook )
- Bonus Rollingan Sport 0.3% 
- Bonus Rollingan Sabung Ayam 0.3% 
- Bonus Referral Togel : 
-- 4D & COLOK : 1%
-- 2D & 3D : 0.5%
- Bonus Referral 2% ( Sportbook & Sabung Ayam )
- Betting Mix Parlay 2Tim, Minimal Betting 5Ribu

LIVE CHAT 24 JAM
BBM : KICAU4D
LINE :KICAU4D
WA : +855968273109



Idol Perempuan K-Pop di Tengah Konservatisme dan Cacian Penggemar WWW.KICAU4D.NET Idol Perempuan K-Pop di Tengah Konservatisme dan Cacian Penggemar WWW.KICAU4D.NET Reviewed by SahabatKicau4d on Maret 04, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.